19.10.15

STRATEGI TANAM PISANG DI LAHAN ENDEMI HAMA URET



Pisang merupakan salah satu dari berbagai jenis buah-buahan tropis yang berada dan banyak dibudidayakan di Indonesia. Syarat tumbuh yang toleran dalam lingkungan yang luas dan juga teknik budidaya yang relatif mudah membuat pisang banyak dibudidayakan. Baik di lahan sawah dan tegal bahkan di lahan pekarangan pun bisa tumbuh dengan baik. Seperti halnya, yang dilakukan pak Sayuti (70), petani asal dusun patilaler desa deyeng kec. Ringinrejo kab. Kediri, Jatim

Sejak merintis usaha budidaya pisang 2 tahun lalu, pak Sayuti sekarang boleh dikatakan cukup sukses dalam usahanya. Minimal pendapatannya bertambah seiring makin banyaknya permintaan akan buah pisang, terutama pada bulan bulan tertentu khususnya musim hajatan (pernikahan) dan bahkan tidak jarang tidak mampu memenuhi permintaan konsumen. Menurutnya, dalam hal budidaya pisang yang dalam hal ini varietas ambon dan raja secara umum tidaklah begitu sulit. Akan tetapi menurut pak. Sayuti, khusus tanam pisang di lahan tegal ada hal-hal khusus yang harus di perhatikan agar tanaman bisa tumbuh dengan baik.
 


Sebagai catatan, lahan tegal khususnya yang berada di daerah desa deyeng umumnya berpasir (komposisi pasirnya lebih banyak daripada tanah liat/lempung). Apalagi di daerah tersebut pada saat tertentu selalu ada musim serangan hama uret (embog/gayas). Karena itu, menurutnya ada tiga (3) kiat/langkah yang harus diperhatikan agar pertumbuhan pisang bisa maksimal tanpa mengabaikan teknis budidaya lainya, seperti jarak dan ukuran lubang tanam, penyiraman, pemupukan dan pengendalian hama/penyakit. Adapun kiat tersebut adalah :

 

1.      1. Waktu Tanam
Waktu tanam pisang sebaiknya dilakukan pada bulan agustus, september atau oktober. Hal ini bertujuan untuk menyesuaikan siklus hidup hama uret, dan agar saat periode kritis bibit pisang tidak layu/mati karena pada bulan tersebut  hama uret yang menjadi momok petani masih berbentuk pupa/kumbang kecil dan berada di lapisan tanah bawah (20 cm) sehingga pupa tersebut belum mampu/tidak memakan akar pisang. Hal ini tentunya ada catatan khusus, yaitu untuk menjaga kelembaban tanah dan kelangsungan hidup bibit pisang, penyiraman dengan sistim kocor/irigasi memakai mesin pompa air tetap wajib dilakukan, mengingat pada bulan tersebut belum ada hujan dan lokasi tanam di lahan tegal yang tentunya jauh dari irigasi teknis.





2. Kedalaman Lubang Tanam
Untuk menghindari serangan hama uret pada akar pisang, maka kedalaman lubang tanam haruslah juga menjadi perhatikan. Menurut pengalaman pak Sayuti, kedalaman ideal lubang tanam adalah 75 cm (memanjang berbentuk parit). Hal ini mempuyai dua (2) tujuan, pertama; kedalaman tanah 75 cm, struktur tanahnya remah, sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan (perakaran) awal bibit pisang. Kedua; kedalaman tersebut jauh dari jangkauan habitat hama uret. Karena hama uret tidak mampu hidup di kedalaman tanah lebih dari 20 s/d 30 cm. Dengan demikian pertumbuhan akar pisang akan lebih maksimal. Karena tidak ada gangguan/ serangan hama uret. 



 

 
1.      3. Aplikasi Sekam di Sekitar Perakaran
Setelah bibit ditanam (30 HST), hal yang harus diperhatikan adalah perlunya pemberian sekam padi. Sekam tersebut bisa di berikan langsung pada lubang tanam dengan cara menyadurnya dengan tanah di sekitar perakaran, yang tentunya harus ektra hati-hati karena kalau tidak, akar pisang bisa terputus terkena cangkul saat menyadur. Pemberian sekam ini memiliki tiga (3) tujuan, yaitu kontribusi sekam sangat baik sebagai media penyimpan air apalagi tanam bibit pisangnya musim kemarau (bulan agustus, september atau oktober) sehingga saat penyiraman/irigasi, air tersebut terserap sekam sehingga kelembaban tanah di sekitar perakaran tetap terjaga. Selain itu, aplikasi sekam juga mampu menjaga porositas tanah, sehingga tanah tidak padat dan menjadikan pertumbuhan perakaran bibit pisang lebih maksimal. Terakhir, keberadaan sekam disekitar perakaran (lubang tanam) membuat ruang gerak hama uret tidak lagi bebas, karena bentuk sekam itu lancip, sehingga bagian tubuh uret tidak tahan terkena tusukan sekam sebagai akibat dari pergerakan uret itu sendiri di dalam tanah (kontributor, heri prasetyo)

2 komentar: